Sesper Perum BULOG : Impor Beras itu Keputusan Pemerintah yang harus dilaksanakan

Sekretaris Perum BULOG : Siti Kuwati (Foto : Ilustrasi MONITOR / Sapto Fama)

MONITOR Jakarta - Perum BULOG angkat bicara terkait polemik Kebijakan Impor Beras khususnya menyangkut tupoksi kelembagaan perusahaan umum yang mengurusi stok ketersediaan logistik pangan tersebut.

Ditemui di kantornya (Jum’at 9/2), Sekretaris Perusahaan Perum BULOG, Siti Kuwati menerangkan secara gamblang terkait penugasan impor beras yang disebutnya sebagai tindaklanjut dari hasil rapat koordinasi terbatas (rakortas) yang dipimpin oleh Menko Perekonomian. Berikut Petikan Wawancaranya :

Kebijakan Impor Beras terus menuai polemik di Masyarakat. Bulog sendiri tetap menjalankannya, bisa dijelaskan?

Impor itu bukan keinginan BULOG, tapi karena memang penugasan pemerintah hasil rakortas tanggal 15 Januari 2018. Karena didesak waktu, (perhitungan mau panen) sehingga, setelah diputuskan BULOG mendapat penugasan  maka malamnya langsung dirapatkan di internal BULOG, untuk merumuskan langkah-langkah tercepat dengan tetap berpedoman pd ketentuan yang berlaku. Bahwa impor  ini mungkin akan mengundang polemik, makanya pak Dirut   (Djarot Kusumadjakti) selalu berpesan  agar kami memegang teguh prinsip GCG (Good Corporate Governance).

Dengan Prinsip GCG itu kami merumuskan beberapa hal yang harus dipegang dalam memproses impor beras tersebut, tidak ada toleransi sedikitpun untuk kelalaian apalagi main-main.

Prosesnya cukup kompleks, tetapi dikerjakan dengan cepat. Mulai dari Request for Quotation, yaitu minta indikasi harga, dan membuat shortlist penawar resmi yang masuk, kemudian proses biding. Pada tahap ini penawar yang diundang tentu saja harus Perusahaan benar-benar termasuk dalam asosiasi eksportir dan memiliki pengalaman yang ditunjukkan dengan sertifikat dan dokumen pendukung lainnya.  Lalu tahap negosiasi

Proses biding ada dua puluhan perusahaan dari Pakistan, India, Thailand dan Vietnam. Dari dua puluhan itu ada delapan yang berkontrak dan sanggup memenuhi sampai akhir februari.



Kebijakan impor beras itu dinilai tidak tepat karena berbarengan dengan panen raya. Apakah Bulog tidak mau menyerap? 

Persepsi bahwa Bulog tidak mau menyerap hasil panen petani itu salah sekali. Perlu diluruskan, sampai dimana-mana ada protes tolak impor, yang sempat mengemuka, karena mungkin mereka tidak paham, itu pertama. 

Yang kedua beranggapan bahwa kalau ada impor nanti beras hasil panen petani tidak terserap. Kenapa gak keserap? Padahal soal impor dengan penyerapan panen sebenarnya kalau dilihat lebih seksama adalah hal yang berbeda.

Impor itu di keputusan  rakortas itu 500.000 ton karena hanya untuk menambah stok yang pada saat akhir tahun 2017 yang hanya sekitar 700 ribu ton. Minimal stok untuk ketahanan pangan itu adalah 1 juta ton.

Untuk menyerap hasil panen, tidak perlu khawarir, Bulog punya 500 komplek gudang dengan 1.400 unit gudang yang tersebar di 26 Divisi Regional dg kapasitas simpan seluruhnya kurang lebih 4 juta ton. 

Yang perlu diwaspadai adalah panen saat ini kebetulan musim hujan, sehingga harus hati-hati seklai terkait dengan ketentuan Kadar Air. Soal Kadar Air beras misalnya, harus maksimal 14%. Kalau di atas 14%, beras tdk bisa disimpan lama. Akan hancur dan menggumpal. 
Adapun terkait harga beras, sudah ditentukan dalam inpres yaitu Rp 7.300. Bulog tidak bisa menentukan sendiri harganya. Kalau harga masih di atas harga tersebut ya Bulog tidak bisa beli.

Jadi impor itu untuk tambahan stok saja?

Ya, dan nanti akan masuk ke gudang-gudang, dan akan dikeluarkan dari gudang berdasar perintah pemerintah lagi. Dari semua perusahaan lulus tender di kita (Bulog) ternyata yang menandatangani kontrak dengan kita dan sanggup mendatangkan beras paling lambat 28 Februari hanya sampai 281.000 ton.

Berapa kebutuhan beras Nasional kita?

Kebutuhan konsumsi nasional kita yaitu 2,5 juta ton sebulan. Impor itu cuma 281.000 ton. Itu pun disimpan dulu di gudang, untuk menambah stok Bulog. Karena Bulog lembaga pangan yang harus punya stok untuk memenuhi cadangan pemerintah yang seharusnya ada. 

Nah dari situ gak ada alasan, kalau kemudian ada yang beranggapan ingin menjatuhkan petani. Enggak benar itu. 

Apakah hasil panen petani tidak cukup untuk menjaga stok pangan Nasional?

Mudah-mudahan saja panennya bagus, karena Bulog mau menyerap harus sesuai dengan ketentuan yaitu inpres no. 5 tahun 2005. Kita sih berharap bisa sebanyak-banyaknya menyerap panen, sebanyak-banyaknya yang bagus dan memenuhi persyaratan standar kualitas dan harga Bulog (hpp), yg sudah ditentukan Inpres itu. 

Hanya saja jumlahnya berapa nanti kita akan liat, kami terutama pak Dirut berulang-ulang menyampaikan kepada para kadivre atau orang-orang lapangan meminta supaya berpegangan pada aturan kualitas dan harga. Jadi gak ada toleransi bagi yang tidak serius menjalankan tugas. Kalau main main pasti kami tindak tegas, bisa dipecat lho. Karena apa, karena kami tidak ingin ada berita beras jelek, yang  mungkin pas masuknya basah atau di luar standar.



Kalau kualitas beras yang akan diimpor bagaimana?

Berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 01 tahun 2018 tentang Ketentuan Ekspor dan Impor, beras untuk keperluan umum adalah beras dengan kepecahan di atas 5% sampai dengan 25%. -

Dalam perkembangan selanjutnya, Perum BULOG mengimpor beras dengan kepecahan 5% dan 15%. 

Sekali lagi, penugasan Perum BULOG tersebut telah tersurat dalam Surat Menteri Perdagangan Nomor 94/M-DAG/SD/1/2018 tgl 15 Januari 2018, bahwa BULOG dapat melakukan impor beras untuk keperluan umum dengan broken di atas 5% sampai dengan 25% dan keperluan lain dengan broken 0 - 5%. Berdasarkan Surat Persetujuan Impor Beras dari Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kemendag RI Nomor 04.PI-11.18.0018 tgl 15 Januari 2018 perihal Persetujuan Impor Beras, BULOG diijinkan mengimpor beras untuk keperluan umum dengan broken di atas 5% sampai dengan 25% dan keperluan lain dengan broken 0 - 5% dengan jumlah sampai dengan 500.000 ton.

Bagaimana perkembangan proses impornya?

Tanggal 11 dan 12 Feb rencananya akan masuk sandar di tanjung priok 41.000 ton. 10.000 ton masuk di Tenau NTT dan 6.000 ton sedang sandar di Merak. Semuanya beras Vietnam.

Tanggal 15 akan masuk lagi beras Thailand di Priok 30.000 ton. Tanjung Perak 20.000 ton. Lampung 5.000 ton dan Bali 4.750 ton (Vietnam)

(jml)

Terpopuler