Kolom

Kepala BKKBN : Ayo Sekarang Saatnya Revolusi Mental

Kepala BKKBN, DR. Surya Chandra Surapaty, MPH, PhD (Dok. MONITOR)

MONITOR, Jakarta - Program Keluarga Berencana (KB) di Indonesia sempat mencapai puncak keberhasilan pada tahun 1994-1995. Namun setelah reformasi, program KB berantakan, di akhir 2010 terjadi kelebihan 3 juta penduduk dari proyeksi. Hal ini terjadi akibat berbagai macam faktor, salah satunya adalah tidak relevannya paradigma kesehatan untuk mengajak masyarakat untuk mengikuti KB.

Program KB pada masa mendatang idealnya bukan lagi sebuah sistem yang bersifat pemaksaan, melainkan fokus untuk menanamkan nilai-nilai pada masyarakat tentang makna membangun keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera.

Dengan berbagai harapan dan tantangan kedepan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) harus fokus menyiapkan kajian dan analisis data serta implikasi kebijakan, memantau program kependudukan strategis dan menyiapakan berbagai kajian, analisis data serta implikasi kebijakan  yang perlu di ambil. Hal ini sangat penting supaya  Indonesia kedepan mampu mengejar sasaran dan target serta ketertinggalannya, agar  Indonesia bisa mendapatkan Bonus Demografi setidaknya pada tahun 2025 mendatang.

Upaya apa saja yang akan dilakukan BKKBN dalam upaya mengawal program kependudukan dan Keluarga berencana terlebih dalam konteks Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) dalam mengawal Revolusi Mental dan Pembangunan Manusia dalam bingkai Nawacita? MONITOR telah mewawancarai Kepala BKKBN, DR. Surya Chandra Surapaty, MPH, PhD. Berikut Petikan Wawancaranya :

Menurut Anda apa tantangan Bangsa Indonesia saat ini terkait masalah Kependudukan?  

Sekarang kita dihadapkan pada tantangan masalah kependudukan yaitu bonus demografi, suatu keadaan penduduk usia kerja mendominasi melebihi 50% dibanding mereka usia tidak kerja. Jadi melimpah ini angkatan kerja. Ini bisa menjadi pedang bermata dua bisa menjadi anugrah bagi kesejahteraan rakyat indonesia bisa jadi musibah.

Jadi anugrah kalau manusianya itu berkualitas, kualitasnya bisa kita lihat dari dua konsep: kompetensi dan karakter. Kompetensi bisa dilihat dari rata-rata lama sekolah, dan rata-rata  terakhir anak bersekolah di Indonesia 7,8 th, berarti hanya menjajak SD. Berarti orang yang menjajak SD bisa jadi 60%. Jangan dihitung dulu S1, S2-nya kalah kita dibanding negara lain. Jadi kompetensinya itu kurang.

Selain Kompetensi?

Selain kompetensinya kurang, karakternya juga lemah, mentalnya negatif. Karakter yang lemah itu, misalkan munafik atau hipokrit, enggan bertanggungjawab, berjiwa feodal, artistik, watak yang lemah, hidup yang boros, tukang menggerutu, tukang tiru atau plagiat.

Solusinya?

Nah saat ini saatnya kita lakukan reformasi karakter bangsa sesuai dengan prinsip Nawacita. Sekarang kan pergerakan nasional revolusi mental, sebetulnya itu menggaungkan kembali apa yang telah dicanangkan presiden sukarno. Tahun 1957 Bung Karno mengajak untuk mengisi kemerdekaan Indonesia ini dengan membangun karakter bangsa melalui revolusi mental.

Revolusi mental, kata bung karno adalah gerakan hidup baru untuk menggembleng manusia indonesia menjadi manusia baru yang berhati putih berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, berjiwa berapi-api yang menyala-nyala yang melahirkan manusia yang berintegritas, beretos kerja dengan semangat gotong royong.

Ajakan bung karno itu layu sebelum berkembang. Orientasi pembangunan kita bukan pada pembangunan manusia tapi pembangunan ekonomi makro pertumbuhan tinggi2 tapi tidak netes-netes ke bawah. Masih berapa juta rakyat Indonesia miskin sekarang yang perlu dibantu? Artinya kita harus membangun manusia Indonesia, manusianya dibangun.

Nah membangun indonesia itu sejak kapan, sejak dalam kandungan, di dalam keluarga, keluarga kita harus berketahanan, keluarga yang menjalankan 8 fungsinya, fungsi agama, fungsi cinta kasih, fungsi reproduksi, fungsi sosial budaya, fungsi perlindungan dan fungsi lingkungan. Kalau ke delapannya ada di keluarga, maka keluarga itulah yang sanggup melahirkan manusia berkualitas berkompetensi punya karakter.

Itu semua kan konsep, langkah kongkretnya seperti apa?

Kongkretnya, bagi orang dewasa spt kita-kita ini kalau merasa yang tadi ada pada kita, ayo berubah. Mental negatif, mental pengecut, boros dan lain-lain rubah dengan revolusi mental. Karna apa harus dengan revolusi mental, itulah yang membedakan manusia dengan hewan. Pikirannya, Mentalnya. 

Ayo sekarang saatnya revolusi mental. Nah adapun dalam melakukan revolusi mental ini harus dilakukan dengan komunikasi segi tiga. Kekurangan bangsa indonesia yang tidak mampu berkomunikasi.

Kita sebut itu komunikasi segitiga yaitu komunikasi vertikal, intra personal, horizintal. Antara dirinya masing-masing dengan Tuhannya masing-masing, antara dirimu dengan dirimu sendiri. 

Kembali soal penyakit mental tadi, bisa dijelaskan?

Ada 4 dasar penyakit mental. angkuh, iri dengki, serakah. Maka abis itu semua dengan komunikasi segi tiga. Karena kalau kita berkomunikasi vertikal itu lahirkan integritas, jujur dapat dipercaya, disiplin, bertanggung jawab, konsisten.

Komunikasi intrapersonal kedalam dirinya, tafakur sesaat, merenung sesaat tanyakan dirinya siapa saya ini, berasal dari mana saya ini kesadaran tersebut harus sampai pada kita terlahir di bumi ini oleh maha kuasa melalui pernikahan ayah dan ibu itu bukan suatu kebetulan tetapi membawa satu arah untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya, memakmurkan bumi ini.

Kemudian komunikasi horizontal komunikasi seorang ibu, ayah dan anaknya kapan dibina, sejak kapan sejak dalam kandungan sejak dibenihkan, maka kehamilan itu harus direncanakan, maka menikahlah karena rencana bukan karena bencana. Dijaga pernikahannya, persalinannya, menyusuinya, maka anaknya itu nanti akan menjadi anak yang brrkompetensi berkarakter. Kenapa? karena pertumbuhan otak anak dibententukan sejak dibenihkan sampai berumur 2 tahun. Jangan berikan bayindengan susu formula, beri dia ASI ekslusif.

Jadi kata kuncinya Pembangunan Manusia?

Betul, itu intinya dari pembangunan manusia. Artinya komunikasi vertikal itu pengamalan pancasila pertama, intra personal sila kedua. Nah revolusi mental ini akan menjadikan kita manusia yang berkepribadian Indonesia Berintegritas beretos kerja dan bersemangat gotong royong, yang merdeka, demokratis, yang bebas dari sifat feodal.

Revolusi Mental ini sesuai dengan Falsafah Pancasila?

Revolusi mental ini jelas berbasis pancasila. Ini akan menjadikan manusia yang kata Bung Karno, Indonesia yang tri sakti: berdaulat secra politik, berdikari secara ekonomi, berkepribadian secara kebudayaan.

Hubungannya Revolusi Mental dengan tupoksi BKKBN sendiri?

Gerakan nasional revolusi mental ini harus dimulai dari diri sendiri dan lingkungan keluarga, lingkungan kerja, lingkungan masyarakat, lingkungan bernegara merupakan gerakan berkesinambungan. Kita membangun manusia Indonesia menciptakan generasi emas indonesia 2045.

Kita sekarang ketinggalan dr negara lain yg sama kondisinya pada tahun 60, korsel, brazilia. Karena apa? Pembangunan manusianya, selain infrastruktur selain ekonomi yg jalan. Kita indonesia ketinggalan karena korupsi. Kedepan kita harus bekali anak cucu kita dengan karater, integritas, kompetensi, jiwa kepemimpinan. Itulah etos kerja integritas gotong royong.

Tugas bbkbn itu kita menggaungkan kembali program kelurga berencana itu dan membangun manusianya salam KB. Keluarga Berkualitas.

Bagaimana jika nantinya malah kekurangan tenaga kerja?

Zaman sekarang, zaman mesin dan teknologi, tanah yang luas diolah dengan mesin, teknologi bukan dengan otot dan kerbau. Itu zaman dulu, ketinggalan. Kalau mendapatkan tenaga kerja banyak hanya sebatas menjadi kuli di negara sendiri buat apa? 

Lihat benua australia itu di pantainya di hutan lebatnya ada industri peternakan, kehutanan pertanian dengan teknologi. Itu caranya, Keluarga Berencana, Dua (2) anak cukup.

Sedangkan dalam konteks perkembangan karena si anak harus mendapatkan cinta kasih, ASI ekslusif. Jadi, kalau sudah berumur 35 tahun kita anjurkan ibu-ibu stop sudah melahirkan, karena melahirkan bertaruh nyawa, karena rahim itu makin melemah sehingga pendarahan dan bisa meninggal. Besar potensinya kalau beranak terus.

Sejauh ini seperti apa keberhasilan Program KB itu?

Setelah program KB dilupakan orang, ditinggalkan sejak awal 2000, awal reformasi meningkat itu angka kelahiran di Indonesia. Meningkat Harusnya ditargetkan 2015 menjadi 102 kelahiran.

Saat ini problem cukup serius lainnya adalah banyaknya nikah muda di kalangan masyarakat. Kalapun UU Perkawinan dibatasi, itu kan politik jadi perlu banyak waktu. Kita dari bawah saja sekarang kita kampanyekan. Jangan menikah dulu sebelum usia 21 tahun.

Program KB ini diharapkan selalu bersosialisasi, di kampung-kampung kita dirikan kampung KB. Kalau zaman Orba bisa memaksa karena otoriter, sekarang kan tidak bisa, jadi harus dikomunikasikan, dijelaskan. Tidak mudah memang, maka pembangunan manusia itu kan 25 tahun masanya. Artinya manusia Indonesia kita ini hasil 25 tahun yang lalu, hasil orba sebelumnya juga masih orba. Jadi memang setelah Bung Karno jatuh kita tidak membangun manusia, kita lebih banyak membangun ekonomi makro.

(jml)

Terpopuler