Usung Kaltim Baru, Putra Asli Daerah Ini Siap Bertarung di Pilgub 2018

Aji Dedi Mulawarman

MONITOR, Jakarta - Kalimantan Timur (Kaltim) merupakan salah satu provinsi yang akan menggelar Pemilihan Kepala daerah (Pilkada) pada tahun 2018 mendatang.

Aji Dedi Mulawarman adalah salah satu kandidat bakal calon gubernur yang akan bertarung dalam pilkada Kaltim tersebut.

Aji Dedi merupakan putra asli Kaltim, yakni Keturunan Raden Godang (Putri Sultan Kutai Kartanegara Adji Moehammad Soelaiman) dan Habib Abdurrahman Baragbah (Bendahara Kesultanan Kutai Kartanegara masa Adji Moehammad Soelaiman).

Ia mengaku, dirinya merasa dipanggil untuk mengabdi, membangun dan membuat Kaltim lebih maju dari saat ini. Apalagi menurutnya, Kaltim saat ini memiliki banyak persoalan yang harus dijawab, terutama masalah ekonomi.

“Sebagai putra daerah, saya merasa bertanggungjawab dan merasa terpanggil untuk Kaltim yang lebih maju, terutama terselamatkan dari segi ekonomi,” kata pria lulusan terbaik Program Magister dan Doktor Universitas Brawijaya ini, Rabu (8/11/2017).

Menurut bakal calon yang mengusung ‘Kaltim Baru religius’ ini, masalah yang paling krusial di Kaltim saat ini adalah masalah ekonomi. Ia menjelaskan, pertumbuhan ekonomi di Kaltim dalam beberapa tahun terakhir mengalami perlambatan, seiring dengan fluktuatifnya harga jual batu bara serta minyak dan gas (migas). Akibatnya, anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) ikut anjlok.

“Jika di 2013 APBD Kaltim mampu mencapai Rp 15,14 triliun, maka di 2017 ini APBD dapat dikatakan terjun bebas menjadi Rp 8,820 triliun. Tren penurunan ini sudah terjadi sejak 2013. Saat itu, APBD berada diangka Rp 13,93 triliun. Namun 2017 menjadi puncak anjloknya APBD Kaltim,” ujar pria yang juga Inisiator Gerakan Aktivis Muda sekaligus sebagai Ketua Yayasan Rumah Peneleh ini.

Selain itu, Ketua Umum Dewan Pengurus Nasional Forum Dosen Ekonomi dan Bisnis Islam, Aji Dedi Mulawarman ini menilai, sengkarut ekonomi Kaltim tak bisa dilepaskan dari orientasi pembangunan pemerintah yang hanya fokus pada kebijakan ekonomi dan politik ekstraktif.

Kebijakan ekonomi yang dimaksud yakni, ketika ekonomi dijarah habis-habisan tanpa mengembalikan hakekatnya sumber daya alam (SDA) untuk menjadi lebih baik. Menurutnya, ekonomi di Kaltim hanya mengandalkan sumber daya alam, seperti batu bara dan migas. Serta industri yang tidak ramah lingkungan, seperti agribisnis.

“Kedua hal itu menjadi tulang pungung ekonomi Kaltim. Kaltim sangat tergantung pertambangan dan perkebunan. Begitu harga pasar dunia naik, maka dia naik. Begitu harga pasar turun, dia ikut turun. Akibatnya terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi,” kata Aji Dedi.

Itulah yang kemudian menjadi salah satu pendorongnya untuk meju di Pilkada Kaltim. Selain itu juga, dirinya mengklaim didorong oleh tokoh dan ormas di Kaltim untuk maju dan bertarung.

“Dorongan para tokoh, baik itu ulama dan tokoh masyarakat bahkan ormas serta keluarga menjadi amanah kepada saya. InsyaAllah saya siap untuk bertarung,” tutup Aji Dedi.

(hen)

Terpopuler