NASIONAL

Presiden Diminta Segera Siapkan Calon Panglima TNI Baru

Panglima TNI Jendral Gatot Nurmantyo (sumber: RMOL.co)

MONITOR, Jakarta - Presiden RI Joko Widodo diminta segera menetapkan calon Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI). Hal itu menyusul Jendral Gatot Nurmantyo yang akan memasuki masa pensiun Maret 2018 mendatang.

Demikian dikatakan oleh Direktur Eksekutif Institut Demokrasi, Anton Aliabbas. Menurutnya, percepatan penentuan nama Panglima baru tersebut penting guna menjaga kesinambungan regenerasi dan program di tubuh TNI.

"Ada tiga alasan mengapa nama kandidat Panglima TNI penting untuk segera disiapkan. Pertama, pergantian Panglima membutuhkan persetujuan DPR. Pengajuan nama baru Panglima TNI jauh hari sebelum masa pensiun Jenderal Gatot akan memberi keleluasaan DPR untuk mencermati dan memeriksa profil kandidat sebelum memberi keputusan, apakah menyetujui atau tidak atas usul pergantian panglima," kata Anton dalam siaran pers, Sabtu (12/11).

Dengan kata lain, lanjut Anton, DPR tidak perlu tergesa-gesa dalam mengambil keputusan. Kedua, pengajuan nama baru itu juga memberi peluang publik untuk ikut lebih lama mencermati sosok kandidat panglima TNI mendatang. Ketiga, pergantian ini juga sedikit banyak akan membantu memperlancar proses ‘transisi’ manajerial organisasi di tubuh Mabes TNI.

"Presiden Jokowi sebaiknya kembali mendukung proses pergantian Panglima TNI secara bergiliran. Pola rotasi jabatan Panglima TNI akan semakin menumbuhkan rasa kesetaraan dalam TNI. Rasa setara ini akan menjadikan aspek kesatuan antarmatra lebih baik," tambahnya.

Lebih lanjut Anton mengingatkan, semakin dekatnya ‘tahun politik’, ada baiknya Presiden Jokowi untuk lebih cermat dalam meneliti rekam jejak personal dan kinerja bakal calon kandidat yang akan diajukan ke DPR. Dimana tahun-tahun mendatang, Indonesia akan melewati pilkada serentak pada 2018 dan Pemilu serta Pilpres 2019. Masa tersebut dinilai sebagai ujian terdekat bagi kepemimpinan dan ketegasan Panglima TNI mendatang dalam menjaga dan memelihara profesionalisme militer.

"Oleh karena itu, penting kiranya, Presiden Jokowi mengajukan kandidat yang terbukti tidak sering melakukan akrobat politik. Sosok pengganti Jenderal Gatot hendaknya mampu menjaga ‘jarak’ dan sangat berhati-hati dengan kegiatan politik praktis. Netralitas TNI sepatutnya dijaga selayaknya ‘harga mati’. Sudah semestinya Panglima TNI mendatang lebih terfokus pada dukungan penuh atas agenda Presiden Jokowi membangun poros maritim, dengan bertumpu pada kekuatan angkatan udara dan angkatan laut dengan tidak meninggalkan kekuatan angkatan darat," tandasnya.

"Tidak hanya itu, sosok Panglima TNI ke depan juga harus mampu menunjukkan kemampuan, komitmen dan integritas untuk membangun profesionalisme militer. Meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan anggaran militer termasuk pengadaan alutsista adalah beberapa hal penting dalam membangun kekuatan TNI yang professional dan disegani di kawasan," pungkas Penggiat Koalisi Masyarakat Sipil Untuk Reformasi Sektor Kemanan itu.

(hans)

Terpopuler