NASIONAL

Tolong, Aku Mau Mati..!

ilustrasi gambar

Reza Indragiri Amriel
Pakar Psikologi Forensik

Anggaplah modus pura-pura sakit (malingering) terbongkar. Si pesakitan kemudian dijemput untuk masuk ke hotel prodeo. Apa yang bisa terjadi kemudian?

Bayangkan bahwa seorang pesakitan sebelumnya menampilkan malingering dengan pola yang bereskalasi. Selesai dengan modus biasa, yakni datang ke instalasi kesehatan dengan mengaku sakit, dia melanjutkan malingering-nya dengan cara yang lebih ekstrim. Sengaja mencederai atau melukai tubuhnya sendiri, sebagai misal.

Pola malingering yang terus bereskalasi bisa saja si pesakitan demonstrasikan kembali, setelah ia dijebloskan ke balik teralis besi. Tujuannya, pokoknya adalah menghindari proses hukum.

Satu siasat malingering yang bereskalasi ke titik ekstrim, mengacu studi, adalah ketika pesakitan mengatakan bahwa ia akan bunuh diri (suicide ideation) atau bahkan 'sungguh-sungguh' berupaya bunuh diri (suicide attempt) di dalam penjara.

Dengan cara seperti itu, si malingerer memang bisa sungguh-sungguh menyulitkan lembaga penegakan hukum. Pasalnya, persoalan bukan lagi sebatas 'sakit' atau sakitnya tersangka, melainkan mati atau matinya (tanpa tanda petik) tersangka.

CCTV yang menyala 24 jam, ruang sel yang steril dari benda-benda yang bisa dipakai untuk 'bunuh diri', serta kontak antarmanusia seminim mungkin patut diupayakan, kendati tidak sepenuhnya menjamin bahwa si pesakitan akan menghentikan malingering-nya.

Tersangka--siapa pun dia, apa pun kasusnya--yang sudah ancang-ancang untuk mengeluarkan jurus malingering pamungkas seperti di atas, semoga ingat satu hal. Jika akrobat 'bunuh diri'-nya kebablasan, sehingga nyawa malah betul-betul lepas dari badan, akan ada satu pihak yang akan sangat kehilangan: tiang listrik.

(tsar)

Terpopuler