HUMANIORA

IPPNU - LDNU Jalin Sinergitas Waspadai Propaganda Radikalis

Ketua Umum IPPNU Puti Hasni

MONITOR, Jakarta - Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PP IPPNU) Puti Hasni prihatin dengan maraknya radikalisme. Ia menuturkan, tak banyak ulama tanah air yang peduli dengan perkembangan radikalisme.

"Kiai Maman Imanul Haq adalah salah satu tokoh nasional yang berjuang betul agar radikalisme dapat dinetralisir di kalangan pelajar. IPPNU berterima kasih dan mendukung penuh tokoh-tokoh anti radikalisme seperti beliau," ujar Puti Hasni, Selasa (28/11) di Gedung PBNU. 

Menurut perempuan kelahiran Jakarta ini, gerakan deradikalisasi yang sedang digencarkan pemerintah melalui sejumlah lembaga, seperti Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) dengan program-program pemudanya, Kementerian Agama (Kemenag), dan instansi lainnya, perlu disinergiskan satu sama lain.

"Sinergitas itu baik antar lembaga negara, maupun dengan organisasi pelajar, ormas, dan tokoh-tokoh publik yang selama ini dikenal vokal terhadap isu anti radikalisme," ujar Puti. 

Di PBNU, badan otonom yang menangani bidang dakwah adalah Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU). Lembaga ini dikomandoi oleh KH Maman Imanul Haq atau acap dipanggil Kang Maman. 

Selain mengabdi di LDNU, beliau adalah Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (FPKB) yang juga pengasuh Pondok Pesantren Al-Mizan di Majalengka, Jawa Barat. Di DPR, Kiai Maman juga membidangi urusan Agama, Sosial, dan Pemberdayaan Perempuan.

"Sama seperti para kiai NU lainnya, seperti KH Ma'ruf Amin, KH Said Aqil Siradj, KH Mutawakkil Alallah, dan KH Maimoen Zubair, Kiai Maman adalah pejuang nilai-nilai aswaja nahdliyyah yang selalu mewanti-wanti generasi muda pelajar agar tidak mudah terjebak bujuk rayu radikalisme berkedok agama," ujar Puti. 

Menurut komandan pelajar putri NU ini, propaganda yang selama ini digencarkan kaum radikal di antaranya: orang Syiah diklaim bukan Islam, dan orang NU diklaim sebagai Syiah. Sementara orang Wahabi mengaku sebagai sunni. "Ini sesat-menyesatkan," kata Puti. 

Propaganda kedua adalah pemerintah diklaim sebagai PKI dan kebangkitan komunis. Sementara radikalis berlagak memerangi PKI. Padahal PKI sudah dibubarkan lama. Propaganda ketiga yang sering datang dari kelompok radikal adalah negara Indonesia dianggap negara thagut. Negara memerangi umat Islam. Pancasila dan Garuda adalah berhala. Umat Islam dilarang menyembah berhala. Jika propaganda ini berhasil, yang mahasiswa pun bisa jadi khilafis dan radikalis, yang awam bisa jadi bomber, yang setengah pintar bisa jadi agen hoax.

Siapa yang rawan jadi korban propaganda di atas? Pertama, orang awam yang belajar agama lewat medsos lalu salah memilih situs dakwah. Kedua, mahasiswa negeri yang awam masalah agama, lalu terjebak dalam daurahan kaum khilafis dan radikalis. Ketiga, ustadz yang baru pegang gadget, lalu masuk ke grup-grup dakwah (grup radikal). Keempat, artis yang ingin mendadak tampil agamis. 

Kelima, dokter yang awam namun baru semangat belajar agama di masa dewasa, ia masuk ke situs-situs dakwah namun salah memilih situs. Keenam, wanita dewasa yang baru semangat belajar agama. Ketujuh, jamaah masjid perkotaan yang pengurusnya jarang dari kampung tersebut. Kedelapan, para barisan sakit hati (bisa sakit hati ke negara atau ormas NU). Kesembilan, anak-anak yang diasramakan di pondok berhaluan wahabi, biasanya asrama tahfidz via ajaran wahabi. Kesepuluh, kaum yang biasa bawa pentung juga rawan terkena jebakan virus propaganda ini, sebab dalam otaknya sudah ada bibit radikal. 

"Karena itu, bangsa ini butuh tokoh-tokoh yang konsisten mengajarkan Islam ramah seperti Kiai Maman. Keberpihakannya pada isu-isu pemberdayaan dan perlindungan perempuan juga nilai plus tersendiri, utamanya bagi kami di IPPNU. Sebagai pimpinan organisasi pelajar putri, saya merasa pandangan dan sikap-sikap yang selama ini disuarakan Kiai Maman tentang perempuan, sangat membantu ikhtiar IPPNU dalam memberdayakan, mengorganisir, serta meng-Aswaja-kan pelajar putri Indonesia," ujar Puti.

(tsar)

Terpopuler