EKONOMI

Menperin Optimis, Industri RI Kuatkan Kemitraan Asean-Uni Eropa

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto didampingi Direktur Jenderal Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional (KPAII) I Gusti Putu Suryawirawan menerima kunjungan Chairman Europe ASEAN Business Alliance, Geoff Donald

MONITOR, Jakarta - Asean dan Eropa merupakan mitra strategis bagi Indonesia guna membangun perekonomian yang saling menguntungkan. Salah satu langkah yang perlu ditempuh untuk menguatkan hubungan tersebut, yakni melalui percepatan dalam perundingan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif (Comprehensive Economic Partnership Agreement/CEPA) kedua belah pihak.

“Untuk itu, kami mendorong agar industri Indonesia bisa terintegrasi pada value chain di tingkat Asean, terutama di sektor yang potensial seperti otomotif, elektronika, serta makanan dan minuman,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto seusai bertemu dengan Chairman Europe Asean Business Alliance (EABA), Geoff Donald beserta delegasi di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Kamis (7/12).

Menperin menyampaikan, pelaksanaan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) menjadi momentum penting bagi negara-negara di Asia Tenggara untuk semakin meningkatkan kerja sama ekonomi khususnya sektor industri agar bisa saling melengkapi satu sama lain. Apalagi ketiga sektor industri tersebut tengah dipacu daya saingnya oleh sejumlah negara karena saat ini dinilai siap menerapkan sistem Industry 4.0.

“Kami meyakini Asean akan menjadi kawasan yang mampu memimpin sebagai future of production, dengan basis internet of everything sabagai infrastruktur utamanya,” ungkap Airlangga.

Hal ini lantaran Asean memiliki potensi pada pertumbuhan ekonomi yang cukup stabil. “Selain itu, didukung dengan populasi penduduk usia muda, kelas menengah yang tumbuh, infrastruktur digitalnya berkembang, transformasi industri kecil dan menengah ke arah digital, serta konektivitas
antarmanusia,” imbuhnya.

Menteri Airlangga menyebutkan, ketiga sektor industri nasional seperti otomotif, elektronika, serta makanan dan minuman telah memiliki keunggulan yang kompetitif di kancah global. Oleh karenanya, terus didorong untuk memperluas pasar ekspor. “Apalagi, industri makanan dan minuman sangat banyak di dalam negeri, mulai dari tingkat kabupaten, bahkan sudah ada yang go international,” ujarnya.

Di tengah perkembangan era digital, industri elektronika lokal juga berpeluang tumbuh. “Sedangkan, di sektor otomotif, selain kita punya domestik market yang kuat, Indonesia telah menjadi basis produksi dari beberapa perusahaan otomotif dunia,” tutur Airlangga.

Di samping itu, Kementerian Perindustrian juga mendorong tiga produk unggulan Indonesia agar lebih memperluas pasar ekspor di Uni Eropa, yaitu pakaian, tekstil, dan sepatu. Ketiga produk industri tersebut masih dikenakan bea masuk oleh Uni Eropa sebesar 12 persen, sedangkan minyak kelapa sawit nol persen, kecuali beberapa produk turunannya yang terkena bea masuk sekitar 10 persen.

Menperin berharap, dengan adanya pembebasan bea masuk, menjadi peluang besar bagi industri Indonesia semakin berdaya saing. Untuk itu, Indonesia tengah melakukan negosiasi dengan Uni Eropa terkait perdagangan dan investasi kedua belah pihak melalui IEU CEPA.

(tsar)

Terpopuler