Kinerja Ekspor 2017 Melampaui Target

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita

MONITOR, Jakarta -  Nilai ekspor Indonesia tahun 2017 diproyeksikan sebesar USD 170,3 miliar, atau meningkat sebesar USD 145,2 miliar dibandingkan tahun lalu. Nilai ini terdiri dari ekspor migas sebesar USD 15,50 miliar dan ekspor nonmigas USD 154,80 miliar. Ekspor nonmigas pada Januari-Desember 2017 (YoY) diproyeksikan tumbuh sebesar 17,20% dan merupakan pertumbuhan tertinggi sejak tahun 2012. Sementara itu, ekspor pada tahun 2018 ditargetkan tumbuh sebesar 5%-7%.

Untuk meningkatkan kinerja ekspor, selain menyasar pasar tradisional seperti China, Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa; Kemendag terus melakukan penetrasi pasar ekspor ke negara-negara nontradisional. Kemendag secara serius meningkatkan perdagangan di kawasan Afrika dengan Afrika Selatan, Nigeria, dan Mesir, salah satunya dengan melakukan misi dagang.

Sedangkan di kawasan Amerika Latin, Kemendag masuk melalui Chile dengan menyelesaikan Kesepakatan Kerja Sama Ekonomi Indonesia-Chile (IC CEPA) dan misi dagang. Pada misi dagang di kawasan Afrika dan Amerika Latin tersebut, Kemendag sukses menghasilkan total transaksi sebesar USD 3,6 miliar.

Sementara itu, penyelenggaraan Trade Expo Indonesia (TEI) ke-32 yang berlangsung di bulan Oktober 2017 dengan lokasi penyelenggaran yang baru, berhasil mencatatkan transaksi USD 1,41 miliar. Jumlah ini meningkat 37,36% dibandingkan TEI ke-31. Pada tahun 2017 ini pulalah TEI ke-32 berhasil  diselenggarakan dengan tampilan barunya yang merupakan hasil sinergi bersama pihak swasta, tanpa menggunakan APBN. TEI 2017 sukses menarik 27.711 pengunjung dari 117 negara, atau naik 78% dibandingkan tahun 2016 dengan jumlah pengunjung sebanyak 15.567 orang.

Perundingan perdagangan internasional tahun 2016 juga telah mencatatkan beberapa capaian. Keempat perundingan regional tersebut adalah ASEAN-Hong Kong Free Trade Agreement (FTA), ASEAN-Hong Kong Investment Agreement, Protokol Perubahan Persetujuan ASEAN-Japan
Comprehensive Economic Partnership (AJCEP), dan Protokol Amandemen ASEAN Comprehensive Investment Agreement (ACIA).

Dalam lingkup kerja sama bilateral, perundingan yang telah selesai adalah Indonesia-Chile Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) dan perjanjian perdagangan Indonesia-Palestina. Indonesia-Chile CEPA menghapus bea masuk ke Chile menjadi 0% untuk 7.669 pos tarif Chile.

Jumlah ini mencakup 94,5% nilai ekspor Indonesia ke Chile tahun 2016. Chile juga memberi pengurangan tarif hingga 50% terhadap 199 produk Indonesia lainnya. Indonesia dan Palestina juga telah menandatangani nota kesepahaman berupa penerapan bea masuk sebesar 0% bagi kedua negara.

Penerapan bea masuk 0% untuk produk Palestina dimulai dengan kurma dan minyak zaitun. Di sisi lain, Palestina akan menyerahkan daftar produk-produk yang perlu diimpor dari Indonesia dan Palestina akan menerapkan bea masuk yang sama sebesar 0%.

Indonesia akan kembali melanjutkan enam perundingan di tahun 2018. Perundingan-perundingan tersebut adalah antara lain Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA), Indonesia-European Free Trade Association FTA, Indonesia-European Union CEPA, Indonesia-Iran Preferential Trade Agreement (PTA), Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP), dan Indonesia-Malaysia Border Trade Agreement (BTA).

Indonesia juga akan menyelesaikan review Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement, Indonesia-Pakistan PTA, Masyarakat Ekonomi ASEAN, ASEAN-Australia-New Zealand FTA, dan ASEAN-India FTA di tahun 2018 ini.

Tahun ini Indonesia telah memulai perundingan Trade in Goods (TIG) dengan Turki. Terdapat beberapa PTA yang juga telah dimulai yaitu dengan Nigeria, Sri Lanka, dan Banglades. Tahun ini juga terdapat Indonesia-Eurasia CEPA yang telah dimulai.

Di tahun 2018, akan ada beberapa perundingan bilateral dan satu perundingan regional yang diinisiasi. Perundingan bilateral tersebut adalah TIG dengan Peru; PTA dengan Kenya (East African Community/EAC), Mozambik, Afrika Selatan (South Africa Custom Union/SACU), dan Maroko; serta CEPA dengan Culf Cooperation Council (GCC). Sementara itu perundingan regional adalah ASEAN-Kanada FTA.

Pada 2018, Kemendag mengalokasikan anggaran sebesar Rp 3,5 triliun.

"Anggaran Kementerian Perdagangan masih akan memberikan prioritas pada sektor perdagangan dalam negeri guna mewujudkan Nawacita yaitu menjaga stabilisasi harga dan menjamin ketersediaan stok barang kebutuhan pokok, dan membangun/merevitalisasi pasar rakyat," pungkas Mendag.


(SKW)

Terpopuler