Publik Figur dan Anjuran Menjaga Lisan

Ilustrasi gambar (net)

MONITOR, Jakarta - Sudah kesekian kalinya, sejumlah publik figur tanah air terjebak dalam kasus berbau SARA. Entah sengaja atau tidak, perkataan yang terlontar dalam lisan mereka membuat geger masyarakat Indonesia dan membuat sakit hati.

Jika mengulas momentum Pilkada DKI 2017 lalu, mantan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok sempat lidahnya 'terpeleset'. Meski mengaku tak bermaksud menyinggung penganut agama mayoritas, namun ucapan Ahok terkait surat Al-Maidah ayat 51 terlanjur menyakiti umat Islam di penjuru Indonesia.

Akibatnya, nahas menimpa putra Belitung Timur itu hingga nasibnya kini terpaksa mendekam di balik jeruji penjara. Begitu pula komedian stand-up, Ge Pamungkas. Beberapa hari lalu, aktor 'Susah Sinyal' ini habis-habisan dikecam netizen, lantaran viral video stand-up comedy nya yang dituding bermuatan SARA.

Ge dalam materi stand-up nya, menyebut bahwa banjir di Ibukota saat ini karena cobaan dari Tuhan, sedangkan periode sebelumnya karena faktor sang gubernur yaitu Ahok. "Wah ini adalah cobaan dari Allah SWT," ujar Ge, yang kemudian disambut tepuk gemuruh para penonton.

"Sesungguhnya Allah akan memberikan cobaan kepada yang dicintai, Cintai Apaan!" tandas Ge yang disambut tertawa penonton.

Dan paling mutakhir, komedian Joshua Suherman ikut-ikutan membawakan materi lawakan yang dianggap mengandung konten SARA. Ia membandingkan karir mantan personel girl band Annisa 'Cherrybelle' dan rekannya Cherly Juno.

Mantan artis cilik ini menyebut, Annisa lebih unggul dibandingkan Cherly. "Gue mikir, apaan sih Anisa unggul dari Cherly? Ah, sekarang gue ketemu jawabannya. "Makanya Che, Islam" kata Joshua sambil tertawa.

"Karena, di Indonesia ini ada yang tidak bisa dikalahkan dengan bakat sebesar apapun. Mayoritas, mayoritas," tambah Joshua di depan Cherly.

Akibat ulahnya ini, Joshua akhirnya pun dilaporkan ke polisi karena dianggap menista agama Islam.

Menjaga Lisan

Isu SARA merupakan hal sensitif. Sedikit saja terucap dan menyakiti kelompok lain, maka hal ini akan membesar dan menimbulkan permusuhan.

Sementara itu, menjadi seorang publik figur tidaklah gampang. Seorang publik figur harus sadar mengenai sisi untung dan rugi. Semua tindakan dan penampilan, akan selalu dilihat publik bahkan diikuti. 

Maka tak heran, Ketua Dewan Pertimbangan MUI Prof Din Syamsuddin meminta para publik figur lebih berhati-hati ketika tampil di masyarakat.

Din juga mengingatkan, agar semua orang memiliki self sensor untuk mengontrol diri terhadap hal-hal yang sifatnya sensitif. Untuk kasus Joshua dan Ge, Guru Besar bidang Pemikiran UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini mengimbau agar masyarakat utamanya publik figur menjaga lisannya.

"Seharusnya punya self sensor dalam dirinya yakni menahan dirinya terhadap yang sensitif terutama dalam wilayah SARA. Tidak hanya agama tapi juga gen ras, suku, dan lain sebagainya," ujar Din Syamsuddin.

(tsar)

Terpopuler